Kamis, 18 Januari 2018

Sekadar Curhat


Di sela-sela kesibukan kerja, saya sering bertukar-cerita dengan ibu boss yang pintar dan bijaksana.  Isi obrolan kami beragam, dari mulai masalah pekerjaan sampai hubungan pasutri (ehm).  Nah, kemarin ibu boss bercerita tentang perjuangan salah seorang sahabatnya dalam mempertahankan pernikahan.

Sobat ibu boss, anggap saja namanya Amel, adalah wanita karir nan berpenampilan gemilang.  Tidak seperti saya yang pulang-pergi kantor 'mbonceng' motornya suami (kebetulan lokasi kantor kami berdekatan), Bu Amel selalu mengendarai mobil model mutakhir kemana pun dia ingin pergi (eh, tapi kalau ke warung dekat rumah nggak pakai mobil kok).   Saat kehujanan di atas motor, saya sering membayangkan betapa nikmatnya punya fasilitas seperti Bu Amel.   Nggak kehujanan.  Tetap tampil cantik sampai sore karena kosmetiknya nggak luntur.   Apalagi nominal penghasilannya sampai 8 digit, sangat memungkinkan beliau untuk hangout di tempat-tempat mentereng sepulang kerja.  Sejujurnya, saya agak iri dengan Bu Amel.

Tapi, percakapan dengan ibu boss, meyakinkan saya bahwa penampilan fisik bukanlah tolak ukur kebahagiaan.  Ternyata Bu Amel pernah menghadapi masalah pelik dalam rumah tangganya.  Suaminya pernah mencintai wanita lain.  Sedemikian cinta hingga berniat menceraikan Bu Amel.  Tapi, Bu Amel 'keukeuh' nggak ingin bercerai.  Beliau bahkan rela dimadu demi keutuhan rumah tangganya.  Salut ya.   Untunglah suaminya insyaf, dan memutuskan kembali pada keluarga kecilnya.  Sekarang mereka mulai menguatkan kembali pondasi bangunan rumah tangga yang nyaris runtuh.

Sekian dulu curhat saya ya.  Ngomong-ngomong, pagi tadi  saya 'mbonceng' suami dengan mata berkaca-kaca lho.  Hati saya gerimis, penuh rasa syukur pada Yang Maha Pengasih, yang telah menganugerahi saya suami yang setia dan bertanggung -jawab selama dua puluh tahun terakhir ini.

Bogor,  18 Januari 2018