Dipublikasikan pada 16:49 WIB
Karya Fiksi oleh Fabina Lovers
Karya Fiksi oleh Fabina Lovers
Ringkasan cerita bagian 2 :
Ratu setengah hati menerima perjodohannya dengan Beni. Ia mengalami mimpi buruk di hari lamaran. Sewaktu Beni dan keluarga berkunjung ke rumah Ratu, gadis itu terpana melihat calon suaminya. Ternyata calon suaminya berwajah tampan. Ratu gemetaran saat menatap pemuda itu.
-----------------------------------------------
Kamu pasti
sering makan di sini,” tebak Beni sambil membaca buku menu.
Ratu dan Beni
menempati meja untuk dua orang di
pojok kantin Kedai Asih. Kantin itu adalah tempat makan populer di kalangan kawula muda Bogor tahun
delapanpuluhan. Kedai Asih terletak di Mall
Internusa. Mall termegah milik Kota Bogor saat
kisah ini terjadi.
“Baru sekali,
itu pun ditraktir teman kuliah yang ulang tahun,” jawab Ratu. Gadis itu tampak rikuh. Baru kali ini ia melewatkan malam minggu bersama
seorang pria.
Mall Internusa kini bernama Pangrango Plaza
“Oh ya, jadi
kalau pacaran kemana aja?”selidik Beni dengan mata berbinar nakal.
“Sejujurnya, aku
nggak pernah pacaran. Mohon tidak bicara hal itu lagi!” Ratu mengetuk-ngetuk jari
tangannya ke meja dengan gusar.
“Sama dong, aku
juga nggak pernah hangout dengan
gadis. Kamulah gadis pertama yang aku
ajak kencan. Nggak percaya? Tanyalah ibuku!” Beni menatap Ratu sambil tersenyum.
Ratu menaikan
alisnya. “Lantas, dengan siapa Kang Beni bermalam minggu?”
Ratu tak perlu
menunggu jawaban Beni. Seorang pria berwajah
arab menghampiri mereka. Pria itu memeluk Beni sambil menepuk-nepuk
punggungnya.
“Selamat Sob, akhirnya Elu laku juga,” kelakar sang pria arab sambil
melirik Ratu. “Wuih, gebetan Lu kece
banget, mirip artis.”
“Kenalkan, ini
Ratu, calon isteri gue. Ratu, ini Gibran, temen paling menyebalkan sedunia.” Beni tertawa sambil meninju bahu Gibran. Ratu
dan Gibran bersalaman.
“Ratu, sejak
SMP, aku selalu melewatkan malam minggu bersama Gibran. Maklum, sama-sama jomblo. Tapi, sekarang kami nggak senasib lagi lho,”
Beni berbicara seraya mengedipkan sebelah matanya.
“Iya deh, gue ngaku kalo Lu lebih hebat dalam hal ini.
Ngomong-ngomong, Ratu punya sahabat
nggak? Boleh dong dikenalkan padaku.” Gibran mengambil kursi lalu duduk di samping Beni.
Ratu
tersipu. “Hm, masa remajaku penuh kerja
keras dan belajar. Aku nggak punya waktu untuk menjalin persahabatan. Kami orang susah. Tanpa bekerja keras, kami nggak punya uang
untuk makan. Tanpa prestasi, kami nggak
bisa meraih beasiswa demi kelanjutan
pendidikan.”
Gibran menjadi
salah tingkah. Sungguh, ia tak bermaksud
mengungkit masa lalu Ratu. “Maaf,
baiknya kita lupakan saja masalah jodohku.
Oh ya, kapan resepsi pernikahan kalian?
Kira-kira aku pantas nggak jadi ‘pagar bagus’?” Gibran menaikkan kerah
jaket lalu mengusap rambut dengan gaya kocak.
Beni melempar
gumpalan tissue ke kepala Gibran. “Huh,
sok cakep. Elu tuh cocoknya jadi ‘pager besi’.
Tapi, kalau grup band Lu boleh lah nyanyi di pesta Gue. Jangan kelamaan ya. Nanti tamu-tamu pada kabur.”
Ratu
tertawa. Suasana beku mencair. “Udah, udah, Gibran boleh nyanyi sampai puas
asalkan nggak minta bayaran,” canda Ratu. “Resepsi kami dua bulan dari sekarang,
tepatnya tanggal 14 Mei. Catat
tanggalnya ya, jangan lupa."
Kehadiran Gibran
memeriahkan malam minggu mereka.
Diam-diam, Ratu mulai menyukai Beni.
Sekalipun terlahir dari keluarga kaya raya, Beni berperangai rendah hati. Gaya bercanda Beni memancing tawa Ratu. Padahal Ratu tergolong gadis yang susah
tertawa.
“Hei, sudah jam
sebelas malam. Nggak kerasa kalau ngobrol. Padahal makanan pesanan kita sudah habis dari tadi. Ayo cinderella, kamu
harus pulang!” Beni meraih tangan Ratu dengan lembut untuk mengajaknya pulang. Gibran berpamitan. Mereka tak pulang bersama karena pria macho itu membawa mobil
pribadi.
Beni dan Ratu bergandengan tangan hingga tiba di area
parkir. Beni membukakan pintu penumpang
untuk Ratu. Perlakuan Beni yang sopan dan lembut
menyanjung perasaan Ratu. Saat kijang
super melaju, perbincangan dua sejoli mengalir tanpa jeda. Tembang-tembang manis milik Diane Rose melatari
perbincangan mereka. Semerbak bunga asmara menguar di seputar kabin mobil. Dalam hatinya, Ratu berjanji akan menjadi penjaga hati Beni
sampai maut memisahkan mereka.

Kijang super keluaran tahun 80-an
Dua bulan
kemudian
Beni tergolek
kelelahan di tempat tidur. Resepsi
pernikahan siang tadi menguras tenaganya.
Bayangkan saja, ia harus bersalaman dengan seribu undangan. Para undangan memenuhi
Gedung Kemuning Gading yang terletak di dekat Balaikota Bogor.
Resepsi pernikahan
mereka sangat mewah untuk ukuran tahun
delapanpuluhan. Pak Hambali mengeluarkan
uang duapuluh juta rupiah demi memanjakan para undangan. Hampir semua undangan memuji kehebatan
resepsi mereka. Tentu saja mereka tak berhayal
mengadakan resepsi serupa. Dana yang
dikeluarkan Pak Hambali hampir menyamai nilai jual empat buah rumah tipe 70.
Pak Hambali
termasuk jutawan kota Bogor.
Ia mewarisi kekayaan melimpah dari orang-tuanya. Kekayaan itu berkembang berkali lipat berkat
kemahiran bisnis Pak Hambali. Hal ini
menakjubkan, karena Pak Hambali memiliki jabatan pula di pemerintahan. Beliau mampu menjalankan roda bisnis dan
pemerintahan secara bersamaan.
Kepiawaian Pak Hambali dalam manajemen waktu hanya dimiliki
segelintir manusia di jagad ini.
Di antara semua
undangan, Ratu terkesan dengan penampilan Kolonel Rajawali Putera, sang
Komandan Kodim. Pria bertubuh tegap itu
tidaklah rupawan. Pipinya penuh bopeng
bekas cacar air. Anehnya, bopeng pipinya terlihat laksana lesung pipit saat
beliau tersenyum. Tentunya karena senyuman Pak Kolonel berasal dari lubuk
hatinya yang murni.
“Bapak Kolonel
Raja berkarakter tegas, cerdas, juga sholeh.
Papa berani taruhan, sebentar lagi dia akan dilantik menjadi Bupati
Bogor,” kata ayah mertua Ratu.
Pada masa itu, Bupati
dipilih secara simbolis oleh DPRD Tk.II. Mengapa dikatakan simbolis? Karena nama Bupati telah ditetapkan sebelumnya oleh fraksi ABRI. Tidak semua perwira ABRI bisa menduduki
jabatan Bupati. Para kandidat Bupati
harus melalui serangkaian tes ujian kecakapan selaku pejabat publik. Hanya kandidat dengan nilai terbaik yang
ditetapkan menjadi Bupati. Pada era
delapan puluhan, Bupati dari kalangan militer merupakan perwujudan dogma
dwifungsi ABRI.
“Belum tidur, Yang?”
tanya Beni sambil membelai rambut isterinya.
Ratu mendaratkan
ciuman ke bibir suaminya. Sesungguhnya
dia sudah tak sabar untuk bermesraan dengan suaminya. “Belum, aku kangen Kang Beni.” Ratu membelai
dada suaminya dengan telunjuknya nan lentik.
“Sabar ya Sayang,
malam ini aku capek banget.” Beni berbisik di telinga isterinya.
Ratu pura-pura
cemberut. ”Oke deh, pokoknya besok kita harus sudah berhubungan layaknya suami
isteri. Janji ya?”
Beni
tergelak. “Oh, aku senang sekali punya
isteri penuh gairah seperti kamu. Besok
akan aku penuhi segenap hasratmu. Pokoknya, kamu bakal kehabisan napas.
Sekarang, tidur yuk!” Beni mengecup kening isterinya lantas
memeluknya.
Ratu merasa damai
dalam pelukan Beni. Ia ingin meneriakan
syukur pada Yang Kuasa. Hidupnya tak
lagi sepahit jadam. Ratu yakin,
riwayatnya esok akan berlumuran madu kehidupan.
(Apakah pernikahan Ratu berbahagia selamanya. Ataukah bayang hitam tragedi menantinya?
Simak kisah lanjutannya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar